Menjadi tempat curhat itu rasanya nano2, kadang seneng karna bisa membantu namun sering juga merasa capek bin lelah. Kali ini dapat cerita dari seorang temen kecil yang udah lama ga ketemu. Tema kali ini masih tentang cut off. Nyatanya banyak orang yang sudah aware dengan kesehatan mental dan lebih memilih menyudahi drama tidak jelas dengan orang2 toxic. Atas nama sayang diri, cut off adalah sebuah tindakan tepat untuk menjaga kestabilan mental.
Sangat kaget mendengar penuturan secara runtut dari orang yang barusan cut off sahabatnya lantaran ia sakit hati, orang yang selama ini dya bantu ga mau gantian [bantu balik]. Menariknya apa yang dya rasakan adalah apa yang juga aku alami. Ketika dya menceritakan dramanya ini dan itu, dalam hati hanya bisa ketawa karena merasa aku di roasting, karena mirip rasanya menghadapi orang yang ga tau diri, orang egois, orang sombong, orang yang maunya dapat validasi, orang yang minta masukan tapi ujungnya sudah kekeh dengan pilihannya.
Secara singkatnya, aku merasa dapat validasi dari kisahnya bahwa cut off ku selama ini dengan dya adalah exactly best dessicion, no debat. Ga ada hal menarik yang harus menjadi pertimbangan untuk tetap berteman sebaik dulu karena tidak imbang. Ia dengan drama egoisnya dan aku dengan pemikiran bahwa pertemanan itu bisa "saling". Dampak cut off adalah feel free, dan ketika dya mencoba masuk lagi dengan dramanya [mengingat tidak ada lagi orang yang ia percayai] maka yang ada adalah auto pasang kuda². Sebagai manusia biasa, ketika dya bercerita tentang dramanya, maka sekedar menanggapi sewajarnya, yang jelas minta perlindungan Allah untuk dijauhkan dari dya dalam segala sisi.
Kadang kita terjebak dalam keadaan, kita ga bisa 100% cut off karena ada lapisan profesional, saudara, ataupun yang lainnya. Yang bisa dilakukan adalah buat pagar setinggi mungkin untuk tidak larut dalam drama kolosalnya. Sudah cukup segala kebaikan yang sudah diberikan, meskipun tidak pernah dihargai kan. So, jadi pinter deh. Cukup kemarin² jadi manusia denial. Jika siapapun itu baik, maka dya akan menghargai kita bukan memanfaatkan kita. Yang ada mentang² kita baik justru semena². Jadi ketika dya cerita dengan segala POV-nya yang bak malaikat itu, aku hanya sesekali ketawa dalam hati, senyum geli bahkan mengumpat dalam hati, bisa² nya dya merasakan apa yang aku rasakan.
Jika ditarik ke tanah etika maka apapun dan siapapun yang sudah membantumu, maka hargailah. Jika kamu ingin punya teman yang awet, menghargai atas effort orang lain adalah hal wajib. Menghargai itu luas ya, jadi ga serta merta terbatas pada membalas effortnya namun ada yang hal sederhana yang bikin awet pertemananmu yakni "hadirmu". Yakali kamu sudah dikasih solusi temenmu, sudah didengarkan cerita ga pentingmu, sudah dikasih waktu berharganya temanmu tapi kamu PEK*K ga bisa gantian tapi malah ketika temanmu cerita, kamu malah asik chatingan sama entah pacarmu ataupun orang lain sambil senyam senyum ga jelas itu. Sedangkan temanmu sudah mengusahakan waktunya untukmu. Ya mana ada orang yang betah sama kamu.
Cukup rasanya punya teman seperti itu, jika 100% bisa cut off pasti itu yang akan aku pilih. Jadi sekarang paham kan kenapa aku memilih ga ingin tau tentang kehidupan orang yang sudah aku cut off? "aku muak dengan dramamu".Drama yang ga ada endingnya, dasarnya kalo orang problematik itu hidupnya akan selalu timbul drama. Masalah itu wajar, namun mengecilkan masalah adalah upaya untuk tidak membuat hidup semakin ribet, terkecuali jika sengaja dengan sadar mencari masalah. Aku baru sadar termyata ada orang yang dalam hidupnya suka sekali hidup ditengah² masalah. Tipe ini suka nggeret temannya untuk masuk dalam pusara dramanya, minta pertolongan tapi ketika ditolong dya kekeh dengan pendiriannya. Rasanya ingin mengumpat di dekat telinganya. Hey, kalo kamu drama jangan bawa aku dong, selesaikan drama yang sengaja kamu ciptakan sendiri. Cukup kali merepotkan aku, capek lho aku punya temen macam kamu.... Rasanya ingin teriak sampek dya sadar bahwa se-toxic itu dya bahkan semua itu temannya menghadapinya.